loader

Rudiantara Minta Startup Berstatus Unicorn Bisa IPO

Rudiantara Minta Startup Berstatus Unicorn Bisa IPO

© Disediakan oleh Kumparan
com-Startup

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara meminta agar perusahaan digital yang telah menyandang status unicorn untuk dapat melantai di pasar modal Indonesia. Hal ini disampaikan Rudiantara saat membuka perdagangan saham pagi ini. 

Menurut Rudiantara, saat ini jumlah perusahaan digital yang telah melantai di bursa melalui skema Initial Public Offering (IPO) belum terlalu banyak. Ia mencatat, rata-rata perusahaan yang telah melantai di bursa bukanlah perusahaan yang berstatus unicorn atau perusahaan digital yang memiliki valuasi lebih dari USD 1 miliar. 

"Saya berharap unicorn-unicorn masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI), karena kita sudah banyak unicorn startup juga. Tapi saya berharap yang unicorn juga masuk ke bursa," kata Rudiantara saat di Gedung BEI, Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (12/7).

Pada kesempatan tersebut, Rudiantara menyambut baik usaha PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang merupakan anak usaha PT M Cash Integrasi yang baru saja melantai di BEI. Rudiantara berharap, langkah NFCX bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan digital lainnya. 



© Disediakan oleh Kumparan
Menkominfo Rudiantara

"Ini adalah perusahaan digital yang kedua yang melantai di BEI. Walaupun mereka belum unicorn, tapi ada keberanian masuk ke bursa di Indonesia," katanya. 

Menurut Rudiantara, dengan tercatatnya perusahaan di pasar modal secara otomatis dapat meningkatkan bisnis perusahan digital di masa mendatang. Ia pun mendorong agar semakin banyak startup dalam negeri menjadi perusahaan go public. 

"Startup pun yang sudah seri B ke atas. Ini mungkin suatu saat mereka ini kan mereka meningkatkan bisnisnya. Selama ini venture capital yang menikmati. Ini pertimbangannya murni bisnis, tapi dari sisi bisnis kami akan dukung," ujarnya. 

Dalam aksi korporasinya, NFCX melepaskan sebanyak 166.667.500 lembar saham biasa atau sebesar 25% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. Perusahaan membanderol harga sahamnya sebesar Rp 1.850 per lembar. Itu artinya, dari IPO ini perusahaan perusahaan berhasil meraup dana segar Rp 308,33 miliar. Nantinya dana tersebut akan digunakan 60% untuk modal kerja, 30% untuk investasi digital, dan sisanya akan digunakan untuk sumber daya manusia.

Komentar

lebih banyak berita utama di kami Pos terkait

Teknologi
Teknologi
Teknologi
News
Teknologi
Teknologi
Teknologi
News
News