loader

Yan Yan Sunarya, Doktor Batik Sunda Pertama Dunia dari ITB

Yan Yan Sunarya, Doktor Batik Sunda Pertama Dunia dari ITB

© Disediakan oleh Kumparan
Yan Yan Sunarya, Dokter Batik Sunda

Sekilas batik Sunda mungkin belum seterkenal batik-batik dari Nusantara lainnya. Namun, perlahan gema batik Sunda mulai didengar dunia.

Dialah Yan Yan Sunarya (48) sosok di balik mulai dikenalnya batik Sunda. Lulusan terbaik Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB 1993 itu mulai giat berbicara tentang batik Sunda dalam berbagai acara selepas merengkuh gelar doktor dari ITB pada 2014 lalu. 

Saat menempuh program doktoral, Yan Yan mengambil objek penelitian mengenai ragam hias batik Sunda. Oleh sebab itu, Yan Yan dijuluki sebagai doktor batik Sunda pertama di dunia. Tahun 2016 Yan Yan disebut sebagai "The First Doctor in Sundanese's Batik" dalam @KoreanUpdates.



© Disediakan oleh Kumparan
Yan Yan Sunarya, Dokter Batik Sunda

Batik Sunda sendiri pada dasarnya bukan cinta pertama Yan Yan. Pada mulanya, pria kelahiran Bandung itu menggeluti bidang fesyen modern. Selanjutnya semasa dia menempuh pendidikan master dia fokus pada fesyen di era posmodern.

“Namun saat mengambil studi Doktoral, penelitiannya disarankan oleh promotor agar tidak lagi mengangkat kembali desain modern. Dari sinilah diamanatkan untuk mengangkat khazanah Batik Sunda,” cerita Yan Yan kepada kumparan, Rabu (11/7). 

Menurutnya, kini batik Sunda perlahan mulai diminati masyarakat Sunda dan dunia. Berbagai peristiwa budaya akhir-akhir ini yang terjadi dalam bidang batik di tingkat Jawa Barat (Tatar Sunda), nasional bahkan internasional telah mendorong minat tersebut. Di antaranya, pendirian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) (2008), Sarasehan Batik Jawa Barat (2008 – 2009), Gelar Batik Jawa Barat (2010), Festival Batik dan Bordir Jawa Barat (2010), Duta Batik Jawa Barat (2010 – 2011), dan masih banyak peristiwa lainnya. 

Yang beda dari batik Sunda dengan daerah lainnya

Batik Sunda berasal dari kata “euyeuk” dan “pangeuyeuk" yang terdapat dalam naskah Sunda Buhun Siksa Kanda Ng Karesian abad ke-16. Dalam naskah tersebut dijelaskan tentang bahan, potongan, warna beureum euceuy (merah kuat), hejo ngagedod (hijau pekat), corak, estetika, dan cikal bakal batik saat ini.



© Disediakan oleh Kumparan
Yan Yan Sunarya, Dokter Batik Sunda

Menurut Yan Yan, batik Sunda didefinisikan sebagai batik yang memiliki unsur-unsur estetika berupa ragam hias yang terdiri atas bentuk, warna, komposisi, penamaan beserta ungkapan-ungkapan Sunda. 

Batik Sunda yang dimaksud dalam hal ini merupakan produksi dari sentra pembatikan lama di wilayah Priangan timur sebagai sub kebudayaan Priangan, di antaranya batik Sumedang, batik Garut/Garutan, batik Tasikmalaya, dan batik Ciamis. Tentunya, batik-batik tersebut memiliki ragam perbedaan dengan batik dari daerah lain. 

“Jelas yang membedakan antara Batik Sunda dengan Batik dari daerah lainnya di Indonesia terletak pada konsep estetik Batik yang khas daerah masing-masing. Kemudian pada masing-masing Batik itu memiliki hubungan antara wujud estetik yang berasal dari hasil pengkajian dan terapan unsur-unsur estetik dalam bentuk ragam hias yang terdapat di dalam Batik tiap-tiap daerah,” kata Yan Yan.



© Disediakan oleh Kumparan
Yan Yan Sunarya, Dokter Batik Sunda (NOT COV)

Saat ini, di samping aktivitasnya mengenalkan batik Sunda pada dunia, Yan Yan aktif berprofesi sebagai dosen Kriya FSRD ITB; penulis-editor-reviewer; peneliti; kurator batik; dan juri batik. Yan Yan juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB (2018-2020). 

Sementara itu, buku tentang batik Sunda juga telah dia tulis, yaitu Batik Digitalisasi Motif Kreatif dalam Gaya Desain Dunia.

Komentar

lebih banyak berita utama di kami Pos terkait

News
fashion
fashion
News
News
News
News
News
News